puisi: Perantara Cinta Akan Kebijaksanaan

Dalam sejarah kita, kita pun punya Dead Poets Society. Anggota awalnya adalah Rustam Effendi. Pada tahun 1924 penyair lakon Bebasari ini menulis sebuah sajak yang kemudian termasyur: Ia buang dan mungkiri aturan lama karena ia tak ingin mengikuti kekangan sosial, karena ia hanya ingin mengikuti perasaan hatinya: “sebab laguku menurut sukma”.

Rustam Effendi, kemudian,tak hanya mau membebaskan diri dan aturan syair. Aturan itu adalah sisa tradisi yang membelenggu,cerminan sebuah masyarakat yang terpasung. Rustam Effendi pun kemudian menjadi seorang Revolusioner. Ia ingin menggaris bawahi pembangkangan itu,yang dimulai dengan puisi.

Pada tahun 1936. S Takdir Alisjahbana memproklamirkan pembangkangan yang lain: Ia mengatakan akan meninggalkan alam kehidupan yang tenteram Kehidupan lama itu baginya seperti “tasik yang tenang tiada beriak” yang “diteduhi gunung yang rimbun/dari angin dan topan”.

Alam yang tak mencekik,memang,tapi tak lagi memuaskan.Di dalam ketenangan itu,jiwa sang penyair justru gelisah.” Gunung pelindung rasa pengalang,” katanya dalam sajak menuju ke laut. Maka, hatinya pun “berontak” , “hendak bebas” dan ” menyerang segala apa menghadang”.

Dan itu tak berhenti padanya. Di awal 1940-an, ada Chairil Anwar. Kita tahu bagaimana penyair ini menamakan dirinya “binatang jalang dari kumpulannya terbuang”. Kita juga ingat bagaimana ia berseru agar para penulis menggores dan membedah segalanya, sebab tak ada tabu yang tak bisa di sentuh, ” juga pohon-pohon beringin keramat yang kini tak boleh di dekati!”.

Siapa yang suka mencemaskan puisi, baiklah kita ingatkan: Chairil adalah anggota terkemuka perhimpunan Dead Poets Society. Ia memang berbahaya, tapi siapa yang bisa membantah bahwa ia telah memberi inspirasi kepada banyak orang? Setelah Chairil, tema pembangkangan dan pembebasan tetap kembali, dan inspirasi itu bangkit terus. Rendra megelu-elukan figur ” orang urakan “, orang yang menampik konvensi umum. Sutardji Calzoum Bachri membebaskan kata dari ikatan kebersamaan bahasa kebersamaan yang di tentukan oleh kamus. (taken from article : Goenawan Mohamad – Thusday, July 03,2003).

Bila film Dead Poets society dikaitkan dengan cara pengajaran dosen-dosen tidak jauh beda, karena sebagian besar dosen diunisba (khususnya Fakultas Ilmu Komunikasi), cara menyampaian ilmu atau cara pengajarannya belum cocok untuk menjadikan mahasiswa sebagai intelektual sejati. Karena didoktrin hal-hal yang berbentuk teoritis terus menerus dan tidak dikenalkan pada lapangan yang sebenarnya. Bila dosen diajak diskusi didalam kelas mengenai mata kuliah yang dipelajari oleh mahiswanya yang lebih berpengetahuan dari dirinya (mahasiswa yang membangkang / mendebat pendapat dari dosen tersebut) akan terdampak pada nilai mata kuliahnya. Apakah ini cara pengajaran yang benar-benar mendidik intelektual. Apalagi waktu ujian (tengah/akhir), selalu teks book,(bila jawaban persis sama buku pasti benar, bila tidak salah), jadi mahasiswa tidak bisa kreatif selalu terpatok pada buku dan harus menghafal kalau ingin ujiannya mendapat nilai yang bagus. Mahasiswa tidak dikenalkan oleh dosennya mengenai keadaan kekinian (relitas yang terjadi pada masa sekarang). Katanya kaum muda adalah agen perubahan, bila seorang agen perubahan dibutakan oleh teori-teori yang ada dibuku dan tidak dikenal dengan praktek-praktek yang menujang perubahan tersebut, apa moto kaum muda sebagai agen perubahan masih pantas dikoar-koarkan (diteriakkan dengan tantang). Bila Mahasiswa meninjau dengan pertanyaan “apa itu”, “dari mana” dan “ke mana”. Di sini orang tidak mencari pengetahuan sebab dan akibat dari suatu masalah, seperti yang diselidiki ilmu, melainkan orang mencari tahu tentang apa yang sebenarnya mahasiswa atau masalah itu, dari mana terjadinya dan ke mana tujuannya.

Film yang menganggakat tentang sekumpulan orang-orang yang suka berpuisi, dan orang-orang yang suka keindahan, kebebasan, permainan, kegembiraan, impian, cinta, dan akhirnya kematian dikarena tekanan batin oleh orang tua yang mengekang berkarya lewat dunia teaternya. (khoirul Aniq/A)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: