Dead poet’s society oleh Randi Yanwandi (10080005329)

     film ini adalah sebuah sekolah persiapan yang bernama Welton Academy. Sekolah ini diceritakan sebagai sebuah sekolah dengan beberapa prinsip yang dijunjung tinggi. Prinsip-prinsip tersebut adalah honor (kehormatan), dicipline (disiplin), excellence (keunggulan), tradition (tradisi). Seperti karakter dari sekolah unggulan, prinsip-prinsip itu sangat ditekankan pada siswa-siswa di sekolah tersebut. Dan seperti umumnya sekolah unggulan, dalam film ini diceritakan bahwa banyak orang tua yang tertarik untuk menyekolahkan anaknya, sebagai upaya agar anaknya tersebut diterima di sekolah/universitas unggulan. Film ini diawali dengan mulai masuknya kembali siswa-siswa di sekolah itu, setelah liburan musim panas. Salah seorang siswa, Neil Perry, mendapatkan seorang teman sekamar baru yang bernama Todd Anderson. Todd sendiri sebelumnya tidak bersekolah di Welton Academy. Tetapi karena kakaknya, yang sempat menjadi siswa teladan, bersekolah di situ maka dia pun dipindahkan oleh orang tuanya. Neil dan beberapa orang temannya sering berkumpul untuk belajar maupun sekedar merokok. Kegiatan yang disebutkan terakhir ini, mereka lakukan secara sembunyi-sembunyi.

Dalam rangka untuk melaksanakan prinsip-prinsip yang dianut Welton Academy, guru yang mengajar disana sangat keras dan disiplin terhadap para siswanya. Selain demi prinsip, hal tersebut juga dilakukan untuk memastikan para siswanya dapat masuk ke universitas unggulan sesuai dengan keinginan para orang tua siswa. Tidak jarang upaya tersebut menyebabkan proses belajar di kelas menjadi monoton dan membosankan. Hanya menghafal apa yang diajarkan oleh guru maupun yang tertulis di buku. Tetapi hal itu seakan tidak menjadi suatu masalah bagi para siswa. Karena, mereka memang telah terbiasa dengan kondisi seperti itu. Kondisi yang berbeda dialami oleh para siswa ketika John Keating, guru bahasa Inggris yang baru, masuk ke kelas. Perbedaan itu jelas terlihat dari metode mengajarnya yang sangat berbeda. Ketika John masuk ke kelas untuk pertama kali, para siswa sangat terkejut dan menganggap guru itu aneh. Tetapi lambat laun, para siswa mulai memahami dan akhirnya mengagumi guru baru tersebut. Beberapa hal yang ditekankan oleh John Keating kepada para siswanya adalah untuk mencari ide sendiri dan berusaha untuk meraih kesempatan . Dia selalu berkata kepada para siswanya untuk berpikir semau mereka, jadilah apa saja.

Neil dan teman-temannya sangat tertarik kepada sosok John Keating. Ketertarikan itu, telah membuat mereka mencari tahu lebih banyak mengenai guru itu. Salah satu hal yang kemudian mereka ketahui adalah semasa mudanya dulu, John bersama teman-temannya sering berkumpul di sebuah gua untuk membaca puisi. Komunitas ini kemudian disebut sebagai the dead poet’s society. Hal ini menginspirasi Neil dan kawan-kawannya untuk melakukan hal yang sama. Mereka kembali menghidupkan the dead poet’s society, dan mulai sering keluar dari asrama sekolah untuk membaca puisi di gua yang terletak di luar kompleks asrama. Begitulah, John Keating telah banyak membawa pengaruh kepada Neil dan kawan-kawannya. Tidak jarang kata-kata “raihlah kesempatan” menjadi suatu alasan dan pendorong bagi mereka untuk melakukan apapun yang mereka inginkan. Misalnya saja yang dilakukan oleh salah seorang siswanya yang telah mengubah namanya menjadi Nuwanda, ketika menyelundupkan tulisan mengenai tuntutan agar Welton Academy menerima siswa wanita dalam buletin sekolah itu. Pihak sekolah akhirnya memberikan hukuman pada Nuwanda dengan memberikan pukulan pada pantatnya. Kepada Nuwanda ditanyakan mengenai keterlibatan siswa-siswa selain dirinya, tapi dia tidak mau mengaku. Dan keberadaan the dead poet’s society pun masih belum diketahui pihak sekolah. Setidaknya itulah yang diketahui oleh para siswa itu. Sampai akhirnya, terjadi suatu peristiwa yang membuat Neil berani melawan perintah ayahnya. Neil yang sangat ingin berakting, telah mendaftar dalam suatu pertunjukkan drama dan diterima sebagai pemeran utama. Demi melaksanakan sesuatu yang sangat diinginkannya itu, Neil memalsukan surat ijin dari ayahnya. Dan akhirnya, ayahnya mengetahui perbuatannya itu. Neil tetap bersikeras untuk ikut dalam drama itu. Dan atas saran dari John Keating, dia membicarakan maksud dan keinginannya untuk berakting. Dan memang kemudian ayahnya mengijinkan Neil untuk ikut dalam pementasan drama itu. Tetapi seusai pementasan, Neil dibawa pulang ke rumah oleh ayahnya. Ayahnya menyampaikan keputusannya untuk mengeluarkan Neil dari Welton Academy dan memasukkannya ke sekolah militer. Sebenarnya Neil tidak menyukai rencana itu, tapi dia tidak mampu untuk menolaknya. Sampai akhirnya, dia membuat keputusan untuk mengakhiri hidupnya dengan pistol milik ayahnya. Kematian Neil ini menjadi awal dari terungkapnya the dead poet’s society, yang dihidupkan kembali oleh Neil dan kawan-kawannya. Dan akhirnya, John Keating yang memang banyak berpengaruh kepada siswa-siswanya dan semasa muda dulu memunculkan the dead poet’s society, menjadi pihak yang dianggap bersalah. John dianggap telah menjadi pendorong dan penyebab dari peristiwa bunuh diri yang dilakukan oleh Neil. Dan akhirnya, John Keating pun dipecat dari Welton Academy. Film ini terlalu banyak berbicara tentang kebebasan. Kebebasan untuk mengungkapkan ide maupun keinginan. Film ini juga menyoroti masalah pendidikan. Seringkali pendidikan dimaknai sebagai suatu media untuk meraih sesuatu yang bersifat material semata, dan status. Padahal ada hal lain yang lebih penting dalam pendidikan. Seperti yang dikatakan John Keating dalam film ini, “Pendidikan adalah belajar untuk berpikir sendiri”. Hal lain yang juga diungkapkan dalam film ini adalah pada kenyataannya, bukanlah hal mudah untuk merubah suatu sistem yang sudah establish. Ini ditunjukkan dengan kegagalan Keating melawan sistem sekolahnya. Walaupun dia telah mampu sedikit memberikan pandangan bagi para siswanya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: