dead poet’s society-Tantri G Adiaty

Fenomena Karya

Di dunia ini banyak sekali orang-orang yang memiliki bakat. Baik di bidang seni seperti bermusik, akting, melukis berpuisi dan lain-lain. Atau di bidang sosial seperti menjadi guru. Setip orang pasti meiliki bakat dan kreatifitasnya masing-masing. Seperti apa yang diceritakan dalam film dead poet’s society.

Film ini menceritakan tentang kreatifitas seseorang dan sekelompok orang yang memiliki satu kesamaan terhadap puisi. Saya rasa, sebuah karya khususnya puisi harus dapat kita hargai dan kita lestarikan dengan baik. Tetapi berbeda pada film dead poet’s society ini. Ada satu adegan yang gurunya menyuruh untuk merobek sebuah karya puisi. Seorang pelajar yang masih berumur rata-rat 14-17 tahun, biasanya masih dalam tahap pencarian jati diri dan maasih dapat terpengaruh. Ini lah yang terjadi pada film tersebut, mereka menuruti apa yang dikatakan oleh gurunya dan mereka termakan oleh omongan-omongannya. Mungkin yang mereka pikirkan, bahwa seorang guru adalah panutan, seseorang yang lebih tahu dari muridnya dan lebih banyak pengalamannya.

Seharusnya hal tersebut tidak terjadi jika, kita bisa sedikit lebih menghargai karya orang lain. Bayangkan saja, jika karaya puisi yang disobek-sobek itu adalah hasil karya kita sendiri. Sangat bertolak belakang sekali dengan visi-misi sekolah tersebut yang diantaranya adalah menghormati.

Ini pun menyangkut hak asasi seseorang terhadap kreatifitas. Seorang anak, dilarang oleh orang tuanya untuk mengikuti akting yang ada di sekolahnya tersebut. Tetapi karena kegigihan dan semangat anak tersebut, dia pun menentang orang tuanya dengan berbagai resiko.

Sekarang, bukan jamannya untuk mengatur anak tentang sesuatu yang diinginkannya. Biarkan anak memilih keinginannya sendiri dan selama masih baik-baik saja. Orang tua hanya mengawasi tingkah laku anak, jika sudah menyalahi aturan barulah mereka mengingatkannya dengan membimbing dan memberi arahan kepada anak tersebut. Tidak ada salahnya memberi kebebasan kepada anak, apabila sesuatu itu bersifat postif dan bisa menjadi penyemangat anak tersebut untuk lebih berkembang lagi. Ini pun dapat melatih kepercayaan dirinya sendiri bahwa dia yakin bisa melakukan apapun yang orang bisa lakukan.

Wajar sekali jika orang tua sangat mencemaskan apa pun yang dilakukan anaknya dan selalu ingin mengetahui apa yang anaknya perbuat. Dan di sini lah peran sang anak kepada orang tuanya yaitu adanya saling keterbukaan anak dengan orang tuanya. Jika hal itu sudah dapat terjalin, mungkin saja orang tua bisa mengerti dan memahami apa yang ingin anaknya lakukan dan apa yang diinginkan anaknya. Kita harus dapat menghargai keinginan seseorang dan memahami karakter orang.

Tantri Gayatri Adiaty

10080005252

Penulisan Artikel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: