Dead Poet’s Society – Hanna

Hanna Wisudawaty  (10080005239)

Film ini di gambarkan tahun 1959 yang menceritakan tentang pendidikan di sekolah Wilten dengan di dukung pemain-pemain yang sudah kita kenal salah satunya adalah Robin Wiliams yang memainkan peran sebagai guru sastra Inggris. Pendidikan adalah belajar untuk berfikir sendiri itulah yang diperkenalkan puisi dalam film ini. Guru sastra Inggris ini memperkenalkan kebebasan berfikir dalam artian membebaskan diri dari aturan puisi.menurutnya membuat puisi adalah hal yang tidak terbatas tanpa aturan karena manusia pada sifat dasarnya memiliki gairah dalam artian senang, sedih, kecewa, marah.

Pesan yang terkandung dalam film ini yaitu cara bebas berfikir, bagaimana berfikir dengan sudut lain melalui puisi tanpa terikat aturan puisi. Metode pengajaran pada guru ini pun menjadi salah satu yang di sorot pada film ini bisa dibilang cara mengajarnya lain dari pada yang lain seorang guru ini yang di perankan oleh Robin Wiliiams yang dianggap mengajar tidak sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan dalam sekolah. Untuk melepaskan dari tradisi cara mengajar tentu sangat sulit selain harus memiliki sikap pemberani mental pun sikap yang melawan arus itu menimbulkan konflik, karena dianggap mempengaruhi pola pikir siswa itu untuk memberontak.Namun, yang dilakukan guru itu sangat benar kita bisa mengaca pada film ini alangkah membosankan jika kita belajar tidak dengan kebebasan berfikir hanya di kotak-kotak yang benar hanya pendapat guru.

Dengan adanya film Dead poets society ini semoga bisa membuka cara berfikir kita bisa dengan sudut lain untuk memandang suatu hal mungkin kita akan menemukan sesuatu yang tidak kita ketahui sebelumnya. Dalam dunia ini tentu tidak bisa memahami sesuatu hanya dengan satu sudut pandang saja. Tidak ada salahnya pendidikan di Indonesia mengadopsi metode pengajaran seperti di film Dead Poets Society. Suatu perubahan yang keluar dari cara berfikir tradisi tidak dianggap baik atau cara berfikir yang sudah ada yang mengatur jika keluar dari aturan itu dianggap tidak baik. Namun, dilihat dari sisi positifnya jika metode itu diterapkan di Indonesia sangat mungkin tercapai siswa-siswi yang kreatif. Tentu kita merasa bosan dengan cara pengajaran yang hanya diam di kelas mendengarkan guru yang dipelajari hanya bahan dari guru. Sepertinya metode pengajaran seperti itu harus ditinggalkan karena selain membuat siswa-siswi menjadi pasif kita pun lebih senang belajar dengan hanya menunggu bahan dari guru saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: