Kebebasan dan Keinginan Berpikir

Berbicara tentang “kebebasan”. Kebebasan untuk mengungkapkan ide maupun keinginan. Film Dead poets Society (DPS) menyoroti masalah pendidikan. Seringkali pendidikan dimaknai sebagai suatu media untuk meraih sesuatu yang bersifat material semata, dan status. Padahal ada hal lain yang lebih penting dalam pendidikan. Seperti yang dikatakan John Keating dalam film tersebut, “Pendidikan adalah sesuatu pembelajaran untuk berpikir sendiri”. Hal lain yang juga diungkapkan dalam film ini adalah pada kenyataannya, bukanlah hal mudah untuk merubah suatu sistem yang sudah establish. Ini ditunjukkan dengan kegagalan Keating melawan sistem sekolahnya. Walaupun dia telah mampu sedikit memberikan pandangan bagi para siswanya.

Apakah yang bisa menggerakan orang pada ‘hari ini’? Inilah filsafat sejarah. Dan peminat bidang yang sama secara hati-hati akan menjawab, “Hari kemarin atau esok”. John Naisbitt dan kawan-kawan, yakni mereka yang berbicara tentang ‘hari esok’, mampu mengusik banyak orang pada ‘hari ini’. Prediksi-prediksi mereka tentang masa depan berhasil merangsang orang berpikir keras untuk membuat ancang-ancang strategi masa depannya sejak dini. Bila kita melihat Tom Schulman, penulis cerita pendek film Dead poets Society (DPS), justru mempercayai bahwa ‘hari kemarin’ pun dapat memacu kreativitas di masa kini. Masa lalu tokoh guru yang bernama John Keating telah memacu tujuh siswanya Niels dan kawan-kawan untuk mendobrak kebekuan-kebekuan sekolahnya yang telah mentradisi. Romantisme ala Schulman ini tidak saja merasuk pada tingkat gagasan, melainkan sampai pada dataran pergaulan yang real dari ketujuh siswa itu. Selain mengingatkan kita akan pentingnnya kebebasan berpikir, agaknya berniat menunjukkan daya kreatif yang dikandung oleh romantisme. Namun film ini cukup jujur dengan mengemukakan sisi lain romantisme: daya fatalis, yang diungkapkan lewat tokoh Nolan (sang kepala sekolah) yang secara genjar mengumbar semangat kepatuhan kepada tradisi dengan mentabukan segala hal baru yang menentangnya.

.

Bila kita melihat hal yang menjadi panutan, keinginan para mahasiswa sekarang ini yaitu kegemilangan inilah yang sampai sekarang menyilaukan mata para mahasiswa yang dijadikan rujukan yang dominan. Tidak saja mempertahankan komitmennya terhadap tema dan isu yang sama, para mahasiswa saat terasa menjiplak gaya dan bahasan masa lalu. Agaknya, kecenderung dilakukan untuk merebut kembali peranan sosial politik mahasiswa, yang secara perlahan mulai tersisih. Bahkan di tengah para aktivitas para mahasiswa berkembang pemikiran bahwa satu-satunya cara agar mahasiswa tetap survival adalah indentifikasi diri dengan para pendahulunya. Akibatnya, sekarang gampang sekali untuk menemukan produk mahasiswa yang setiap edisinya sarat oleh tema dan isu monoton yang berbau kepolitikan dengan bahasa, penyajiannya, dan pembahasan yang hampir-hampir tak pernah berubah. Sementara mereka yang mencoba warna yang berbeda tampak tertatih-tatih dan kehilangan keparcayaan diri, sebagai akibat ketidakmampuannya untuk melepaskan diri dari cengkeraman masa lalunya dan selalu berpegang pada kepercayaan pada suatu bentuk faktor lingkungan tanpa memikirkan kematangan dalam berpikir.

Sikap ikut-ikutan dan kurang kepercayaan pada diri mereka dalam mahasiswa sekarang ini malah telah menjadi bumerang. Sikap ini pula yang justru menjadi salah satunya faktor devolusinya. Tidak sedikit anggota masyarakat mahasiswa kehilangan minat untuk membuka suatu hal yang baru misalkan saja dari minat baca,maupun mengembangkan diri dalam hal kebebasan diri dalam berkreativitas begitu berhadapan dengan produk – produk dalam mahasiswa tersebut. Sebab kerap sekali bahasa dan simbol-simbol komunikasi yang disajikannya tak bisa dipahami. Pada satu sisi, fenomena ini boleh saja dipandang mengasumsikan adanya rekayasa dunia kemahasiswaan sedemikian rupa sehingga mahasiswa tersaing dari persoalan sosial politik. Namun pada sisi lain dan dalam waktu yang bersamaan, setiap zaman cenderung memiliki bahasanya masing-masing. Bahwasanya setiap zaman mempunyai cita rasa, cara dan kapasitas mencerna realitas secara berbeda pula.

Apa yang dilakukan oleh mahasiswa saat ini kiranya sepadan dengan polah tokoh Dalton alias Nuwanda dalam DPS. Dalam mengidentifikasikan dirinya dengan DPS zaman gurunya, Dalton mengunakan gaya dan simbol-simbol komunikasi yang kontektual terhadap lingkungannya. Ia mengira, dengan sikap demikian, bakal mendapat penghargaan dari sang guru, yang kakak kelasnya itu. Ternyata John Keating, sang guru itu, malah memandang bahwa sikap Dalton sangat tidak bijak dan akan mendorong ke arah bunuh diri.

Sikap kebebasan dalam berpikir hanya menemukan daya kreatifnya jika yang dipetik dari masa lalu bukanlah gaya, bahasa, simbol, ritus maupun lingkungan pergaulannya yang sempit secara ketat. Sikap kebebasan dan berpikir pula dapat muncul manakala semangat dan nilai pembaharuan masa lalu diaktualisasi dalam konteks situasi, kondisi, dan persoalan masa kini. Bagaimanapun perjalanan sejarah dari waktu ke waktu senantiasa membuahkan pertambahan jangkuan persoalan, yang kemudian membangun kompleksitas yang bertambah rumit, yang tidak bisa degan serta merta diantisipasi dengan jurus lama yang lebih sederhana.

YUAN TAMBORA

10080005230

B

PENULISAN ARTIKEL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: