Dead poet’s society

Ringkasan cerita

 

Film ini menceritakan tentang sebuah persahabatan dalam perkumpulan. Persahabatan ini dimulai ketika mereka masuk dalam sebuah perkumpulan yang bernama “deads poet society”. Pak Keating seorang guru baru yang mengajar B.Inggris. di awal pertemuan Keating menyuruh merobek seluruh halaman ”memahami puisi dari Dr.JEvan Prtichard. Ph.D”. cara mengajar yang beda dan unik membuat Pak Keating dekat dengan siswanya. Sampai mereka menemukan buku alumni mengenai Pak Keating yang disana tertulis ia seorang pendiri Dead Poet society” . yang membuat mereka ingin tahu apa itu DPS dan melanjutkan tradisi DPS. DPS adalah sebuah perkumpulan yang menyukai puisi dan hampir setiap melakukan ritual membaca karya- karya puisi dari berbagai sastrawan. Ritual dilakukan dalam sebuah gua yang tidak jauh dari astrama. Perkumpulan tidak diketahui pihak sekolah atau dilakukan secara sembunyi – sembunyi. Pada awalnya berjalan lancar namun masalah muncul ketika Nuwanda(Charlie) memasukan artikel di Koran sekolah atas nama “dead poet’s society ”, yang isinya menuntut sekolah agar menerima siswi perempuan di sekolah itu. yang akhirnya Nuwanda harus dihukum. tapi yang jadi besar adalah Neil. Neil anak yang cerdas dan sangat senang acting, sampai ia mendapat peran utama dalam petunjukan drama. namun ayahnya adalah seorang yang menerapkan militer di dalam keluaganya dan sangat keras kepala. Ia tidak setuju anaknya ikut organisasi apapun disekolah itu termasuk drama.

            Satu hari menjelang pertunjukan ayahnya Neil datang dan menyuruhnya untuk keluar dari peran itu, namun ia membangkang dan tetap tampil. Saat pertunjukan ayahnya datang dan menonton. Meskipun acting Neil sangat memukau ayahnya tetap bersikeras dan setelah selesai petunjukan Neil dibawa pulang dan akan dipindahkan ke sekolah militer. Neil bertengkar hebat dengan ayahnya namun tidak berkutik di depan ayahnya. Hingga Neil putus asa dan akhirnya bunuh diri. Ayahnya sangat terpukul dan menyalahkan Gurunya pak keating.

           

Pihak sekolah tidak mau nama sekolahnya tercemar dan akhirnya mengkambing hitamkan pak Keating. Dibawah tekanan anak – anak yang tergabung dalam klub ‘‘dead poet’s society” dipaksa untuk menandatangani surat yang menyatakan pak Keating bersalah atas kejadian ini, dan akhirnya Pak Keating dipecat dari sekolah secara tidak hormat.

 

 

Analisis

 

Judul                                        : Dead Poet’s Society

Tema                                        : Drama

Alur cerita                                : Maju

Setting film                                : Sekolahan tahun 70 an

Produser                                  : Duncan Henderson

Sutradara                                 : Alan B. Curtiss

Pemain                                     : Robbi Williams as John Keating

                                                  Robert Sea Leonard as Neil Perry

                                                 Gale hanseen as Charlie Dalton

                                                  Joe Aufiery as Kepala sekolah

                                                  Kurtwood Smith as Mr Perry, dll.

Production House                     :  Touchstone Pictures

 

 

 

 

 

Pendapat

 

 Menurut saya film sangat bagus, tidak mudah ditebak namun di akhir cerita penonton dibuat agar menentukan sendiri akhir dari cerita film ini. pada saat Keating kembali ke kelas untuk mengambil barang – barangnya, Anderson meminta maaf kepada Keating bahwa ia dan teman – temannya dipaksa untuk menandatangani surat itu. Namun kepala sekolah menuruhnya untuk duduk kembali. Dan kemudian Anderson naik ke atas bangku sambil mengatakan “oh kapten, kaptenku”lalu diikuti oleh siswa lain. Mereka memandang pak Keating dan Pak Keating pun balas memandang sambil tersenyum ia berkata”terima kasih anak – anak, terima kasih” . adegan ini menunjukan betapa berharganya Pak Keating di mata mereka, dan betapa haru dan bangganya Pak Keating bahwa masih di ingat dan akan selalu dikenang oleh mereka. Bahwa betapa mulianya seorang Guru di mata mereka.

            Kita bisa mengambil kesimpulan bagaimana pihak sekolah lebih mengedepankan nama besar sekolah, daripada mempertahankan seorang Guru yang sangat luar biasa. Padahal ia seorang lulusan alumni sekolah itu dengan nilai yang sangat memuaskan. Dan dimana seorang orang tua yang tidak tahu apa keinginan seorang anak yang ingin diperhatikan dan di dukung, bukan memaksakan kehendak / keinginan cita – cita sendiri kepada anaknya.

            Dari film ini saya dapat mengambil sebuah contoh realitas yang mungkin banyak terjadi di sekitar kita dan mungkin lebih parah dari ini. pembelajaran bagi kita sebaiknya orang tua tidak memaksakan kehendak dan tidak banyak menuntut dari anak, biarkan anak itu berkreasi sendiri dan mencari jati dirinya sendiri, apa yang mereka inginkan? Apa yang mereka cari ? biarkan mereka cari jawabanya sendiri. Bukan dengan menentang keinginanya, justru anak akan berontak, tapi dukung dengan perhatian dan beri kesempatan untuk dia unjuk diri.

  

Nama              : Angga Gartia Junjunan

NPM              : 10080005304

Kelas              : B

Kajian            : Jurnalistik 2005

Tugas             : Penulisan Artikel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: