Dead poet’s society RenanHermanto

oleh : Renan Hermanto (10080004273)

Film ini berseting disebuah sekolah yang bernaman Welton Academy. Sekolah ini diceritakan sebagai sebuah sekolah dengan beberapa prinsip yang dijunjung tinggi. Prinsip-prinsip tersebut adalah kehormatan, disiplin, keunggulan dan tradisi. Seperti sekolah unggulan lainnya, prinsip-prinsip itu sangat ditekankan pada siswa-siswa di sekolah tersebut. Dan seperti umumnya sekolah unggulan, dalam film ini diceritakan bahwa banyak orang tua yang tertarik untuk menyekolahkan anaknya, sebagai upaya agar anaknya tersebut diterima di sekolah/universitas unggulan.

Film ini diawali dengan mulai masuknya kembali siswa-siswa di sekolah itu, setelah liburan musim panas. Salah seorang siswa, Neil Perry. Neil dan beberapa orang temannya sering berkumpul untuk belajar maupun sekedar merokok. Tentunya kegiatan merokok ”bareng” mereka lakukan secara sembunyi-sembunyi.

Sama seperti siswa lainnya, Neil masuk ekolah ini hanya untuk melaksanakan perintah orang tuanya. Suatu ketika Neil disuruh oleh ayahnya untuk mengundurkan diri dari posisinya sebagai asisten penyuting buku tahunan, karena ayah Neil beranggapan hal tersebut dapat mengganggu prestasi akademik Neil. Padahal sebenarnya, Neil sangat menikmati dan menginginkan posisi itu, sayangnya Neil tidak dapat menolak keingian orang tuanya.

Ternyata bukan Neil saya yang merasakan hal seperti itu. Mayoritas siswa di sekolah ini juga merasakan hal yang dirasakan oleh Neil. Dan mereka akhirnya terbiasa dengan sikap mengalah dan menurut kepada orang tuanya. Memilih untuk melaksanakan pilihan dan perintah dari orang tuanya, dan melupakan keinginan mereka sendiri.

Selain tekanan dari orang tua, siswa juga tertekan dengan sistem pengajaran yang ada disekolah tersebut. Proses belajar di kelas yang monoton dan membosankan. Hanya menghafal apa yang diajarkan oleh guru maupun yang tertulis di buku. Tetapi hal itu seakan tidak menjadi suatu masalah bagi para siswa. Karena, mereka memang telah terbiasa dengan kondisi seperti itu.

Perubahan terjadi ketika ada seorang guru baru masuk ke kelas. Perbedaan itu jelas terlihat dari metode mengajarnya yang sangat berbeda. Ketika John masuk ke kelas untuk pertama kali, para siswa sangat terkejut dan menganggap guru itu aneh. Tetapi lambat laun, para siswa mulai memahami dan akhirnya mengagumi guru baru tersebut.

Beberapa hal yang ditekankan oleh John Keating kepada para siswanya adalah untuk mencari ide sendiri dan berusaha untuk meraih kesempatan. Kebebasan yang ditawarkan oleh John membuat Neil dan beberapa orang temannya mengagumi John. Kekaguman itu, telah membuat mereka mencari tahu lebih banyak mengenai guru itu. Ternyata. John bersama teman-temannya sering berkumpul di sebuah gua untuk membaca puisi. Komunitas ini kemudian disebut sebagai the dead poet’s society. Hal ini menginspirasi Neil dan kawan-kawannya untuk melakukan hal yang sama.

Begitulah, John Keating telah banyak membawa pengaruh kepada Neil dan kawan-kawannya. Tidak jarang kata-kata “raihlah kesempatan” menjadi suatu alasan dan pendorong bagi mereka untuk melakukan apapun yang mereka inginkan.

Keberadaan the dead poet’s society pun masih belum diketahui pihak sekolah. Setidaknya itulah yang diketahui oleh para siswa itu. Sampai akhirnya, terjadi suatu peristiwa yang membuat Neil berani melawan perintah ayahnya. Hal ini membuat Ayah Neil ingin mengeluarkan anaknya dari Welton Academy dan memasukkannya ke sekolah militer. Sebenarnya Neil tidak menyukai rencana itu, tapi dia tidak mampu untuk menolaknya. Sampai akhirnya, dia membuat keputusan untuk mengakhiri hidupnya dengan pistol milik ayahnya.

Kematian Neil ini menjadi awal dari terungkapnya the dead poet’s society, yang dihidupkan kembali oleh Neil dan kawan-kawannya. Dan akhirnya, John Keating yang memang banyak berpengaruh kepada siswa-siswanya dan semasa muda dulu memunculkan the dead poet’s society, menjadi pihak yang dianggap bersalah.

Film ini banyak berbicara tentang “kebebasan”. Kebebasan untuk mengungkapkan ide maupun keinginan. Film ini juga menyoroti masalah pendidikan. Seringkali pendidikan dimaknai sebagai suatu media untuk meraih sesuatu yang bersifat material semata, dan status. Padahal ada hal lain yang lebih penting dalam pendidikan.

Seperti yang dikatakan John Keating dalam film ini, “Pendidikan adalah belajar untuk berpikir sendiri”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: