ERRBA PRODUCTION

ERRBA

Tulisan ERRBA PRODUCTION terpampang besar di jendela tempat produksi kaos itu. Saya segera masuk bersama dengan seorang teman. Suasana sibuk langsung terasa. Cat yang sudah tua dan menghitam menamah pengap suasana. Saat itu hujan baru saja berhenti, lembab pun tak terelakkan.

Tini (42) sang pemilik ERRBA PRODUCTION. Selama empat tahun menjalani bisnis pembuatan pakaian jadi dari bahan kaos ini belum pernah mengalami kerugian atau hal pahit lainnya. Kaos oblong dan celana pendek yang ia kenakan, seolah menegaskan bahwa ia bekerja, tak hanya bertindak sebagai “nyonya”. Menurut Tini atau yang bernama lengkap Purniawatini ini, selalu ada saja pesanan yang datang. Karena itu, hingga hari ini usaha mereka tetap berdiri dengan kokohnya.

“ Tetap menjaga kualitas dan pelayanan.” Ungkap Tini yang disepakati oleh suaminya, Yono, ketika ditanya jurus jitu apa yang dipakai untuk mempertahankan keeksistensian usahanya.

Yono, sang suami, dengan wajah letih terus memberikan pada pegawainya yang keluar masuk ke ruang sablon. Ia juga masih sabar menerangkan hal-hal yang ditanyakan oleh konsumen yang datang. Bahkan, Yono masih sempat menyimak (dan sering kali menyahut) obrolan saya dengan Tini. Usaha ini dibangun bersama untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga mereka.

Tadinya saya merasa agak aneh, ketika pasangan itu mengakui bahwa mereka tidak pernah melakukan promosi dalam bentuk apapun seperti, membuat iklan di media massa, ikut pameran atau pun menyebarkan brosur. Bagi warga Gg. Rukun Katamso ini, menyebarkan kartu nama pada teman terdekat saja sudah cukup. Nyatanya, hal ini cukup ampuh untuk mengenalkan usaha konveksi mereka menjadi ukup terkenal seperti sekarang ini.

Pesanan yang merantai, tak pernah berhenti seperti pengakuan Tini ini, tak hanya datang dari dalam kota Bandung. Produk mereka juga diinginkan oleh konsumen yang berasal dari jauh. Diantaranya dari Batam, Karawang, Medan dan daerah lainnya di Indonesia.

Perbedaan yang jelas saya temui dari ERRBA PRODUCTION dan produsen kaos lain di sepanjang Jalan Surapati adalah ERRBA PRODUCTION tak pernah mematok angka minimal pemesanan. Di BLITZ, salah satu produsen kaos di Jl. Surapati, hanya mau mengerjakan pemesanan dengan jumlah diatas 50 potong. Hal ini dilakukan untuk meng-cover biaya operasional.

“ Misalnya saja, proses memotong bahan. Satu model satu harga, mau bikin berapapun ongkosnya tetap segitu. Jadi, kalo bikinnya semakin banyak otomatis semakin murah. Tapi kalo bikinnya satu, itungannya mahal.” Ujar Cunarwan (54), pemilik BLITZ PRODUCTION.

Sedangkan di ERRBA PRODUCTION, hanya memesan satu baju pun tak masalah. Beberapa hari berselang, saya mencoba membuktikan apa yang di katakan Tini. Saya ke ERRBA PRODUCTION tapi tidak menemui Tini atau suaminya, Yono, saya bertemu dengan seorang karyawannya yang bernama Mang Jana. Ia menyarankan untuk tidak memakai sablon, karna terhitung mahal jika hanya membuat satu baju, proses sablon juga harus antri karena sedang banyak order. Saya pun menyetujuinya. Kemudian tentang ongkos jahit, apa yang dikatakan Tini kembali terbukti, ongkos yang harus dibayar hanya se-ikhlas si konsumen. Bisaanya ongkos yang di berikan konsumen yang menjahit hanya beberapa bonus, menjadi bonus bagi penjahit atau karyawan ERRBA PRODUCTION.

BLITZ PRODUCTION terletak di kawasan pusat produsen kaos. Tapi ternyata tempat itu hanya berfungsi sebagai tempat pemesanan saja, proses produksi sendiri di lakukan dirumahnya, Jl. Melania 19 Bandung. Sedangkan di ERRBA PRODUCTION, semua proses kecuali membeli bahan, di lakukan di satu tempat itu. Jadi, konsumen bisa langsung mengecek pesanannya di tempat tersebut.

Satu yang kompak dari dua produsen ini; baju bagus tidak selalu baju mahal. Baju berkualitas juga bisa diakali. Yang penting, kreatif dan kaya ide. Baju yang bagus dan berkualitas pun bisa didapat dengan harga rendah.

Usaha seperti ini memang tumbuh subur di kota kembang Bandung. Konsumen dari luar kota pun sering kali memanfaatkan liburan akhir pekannya di Bandung untuk berburu kaos atau baju lainnya. Terbukti dari penuhnya parki di FO-FO atau distro-distro yang tersebar di Bandung. Maka, mudah bagi pemula untuk membuka UKM serupa. Pasar yang ada di Bandung tentu lebih besar dan menjanjikan.

Oleh : HD. Sakienah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: