Dari Santri, Oleh Santri, Untuk Santri

apesantern.jpg

Bandung (19/11), Suasana tampak sepi di sekitar lingkungan pondok pesantren Sukamiskin, Bandung saat itu. Memang situasi seperti ini selalu terlihat tiap harinya pada jam-jam sekolah dan pengajian para santri. Hanya beberapa orang pengurus pesantren yang biasa disebut Dewan Santri berada di dalam kobong (kamar.red) asrama. Begitu pula Iim salah satunya, seorang Rois ‘Am (Pimpinan Asrama.red) yang menemui kami.

Pondok Pesantren Sukamiskin yang didirikan oleh K.H. Raden Muhammad bin Alqo pada tahun 1881 M ini telah mampu mencetak berbagai alumni yang tersebar di berbagai pelosok. Tak sedikit diantara alumni tersebut yang telah mendirikan pondok pesantren sebagai wadah memanfaatkan ilmu yang didapatnya selama di Sukamiskin. Wajar saja, karena pada kenyataannya pesantren yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda ini merupakan pesantren tertua di Bandung. Dari tahun ke tahun sistem pembelajarannya pun berubah. Hal ini disiasati sebagai usaha mengadapi era global.

Santriwan dan santriwati yang datang dari berbagai daerah , terutama Jawa Barat memang mayoritas memiliki tujuan yang sama. Selain dapat mempelajari ilmu umum, mereka pun ingin mendapatkan ilmu agama yang lebih. “ ya..kan kalau kita sekolah saja mah dapat pelajaran agamanya gak seberapa, tapi kalau di pesantren kan bisa dapetin lebih” Ujar Doni santri asal Garut. Waktu dan jadwal yang cukup padat tak menyurutkan niat para santri untuk tetap menimba ilmu. Bayangkan saja, mereka hanya memiliki kesempatan pulang tiga kali dalam setahunnya. Itu pun harus melalui proses perizinan yang sedemikian ketatnya, Dari mulai izin pada Dewan Pengajian, lalu pada Rois ‘Am dan kemudian izin pada perwakilan pengurus pusat. Setelahnya baru santri dapat menghela nafas lega jika diizinkan pulang dengan waktu yang terbatas. Belum lagi serangkaian jadwal harian yang dimulai dari bangun tidur hingga tidur kembali pada pukul 23.00 WIB.

Pesantren Sukamiskin mungkin termasuk salah satu bagian dari pesantren-pesantren lainnya yang lebih berorientasi pada pengabdian. Untuk mendapatkan ijazah pesantren saja seorang santri harus menempuh masa delapan tahun. Enam tahun mereka dapat bersekolah yakni di Madrasah Tsanawiyah tiga tahun dan Madrasah Aliyah tiga tahun, dua tahunnya lagi mereka mengabdi pada pesantren. Khusus putra dalam masa dua tahun tersebut diperbolehkan untuk melanjutkan kuliah di berbagai perguruan tinggi Bandung, tidak untuk santri putri. Pengabdian tersebut menurut Iim merupakan upaya yang dilakukan agar para santri nantinya terus mengingat materi-materi kepesantrenan. “ Ilmu itu kan harus dijaga, caranya ya dengan dimanfaatklan atau disebarkan. Salah satunya kan lewat mengajar: Jelas pria kelahiran Garut ini.

Berbicara mengenai sumber dana, Iim mengaku selama didirikannya hingga sampai detik ini, Sukamiskin tidak pernah menerima sepeser pun dana dari pemerintah. “Alhamdulillah, sampai sekarang masih dari santri, oleh santri, untuk santri dan mudah-mudahan seterusnya”. Padahal jika dikalkulasikan mungkin dana yang didapat dari santri yang sekarang hanya berjumlah kurang lebih 150 orang tidak seberapa. Seorang santri yang hanya dipungut SPP sebesar Rp 20.000 tiap bulannya, itu pun sudah termasuk air, listrik, dan kamar, untuk jaman sekarang bisa dikatakan relatif murah. “ Ilmu kan bukan untuk ndiperjualbelikan, jadi ya kami disini hanya mengemban amanat dan mengharap ridlo Allah saja lah” Tutur sang Rois ‘Am. Oleh karena itulah, pesantren ini memberlakukan salah satu hukuman yakni sistem ta’jir (denda uang) bagi santrinya yang melanggar. Seperti hukuman terhadap santri yang pulang tanpa izin, santri yang bolos menagaji atau sekolah bahkan santri yang tidak sorogan (setor hapalan kitab pada ustadz .red). Uang tersebut nantinya akan digunakan untuk pembelian keperluan para santri juga. Seperti penambahan alat-alat pengajian, dan alat-alat kebersihan.

berkreasi para santri
Para ustadz dan ustadazah di pesantren ini tidak hanya mengajarkan ilmu agama pada santrinya saja, tetapi juga pada masyarakat sekitar. Untuk itulah pengabdian masyarakat pun dinilai sebagai hal penting pada dunia kepesantrenan. Adanya pengajian rutin khusus ibu-ibu sekitar pada hari Kamis yang dipimpin langsung oleh Hj. Raden Siti Maemunah Khaedar dan pengajian bapak-bapak pimpinan K.H Raden Imamsonhaji yang sekaligus sebagai pengasuh pesantren turut membantu peningkatan wawasan keagamaan masyarakat sekitar khususnya umumnya kaum muslim.

Ke depannya, pesantren yang kini mulai lengang peminat ini dengan misi sucinya sebagai sarana Tafaqquh Fiddini akan terus berusaha meningkatkan kualitas para asatidz dan pemilihan sistem pembelajaran yang terus berkembang untuk memenuhi harapan masyarakat pada dunia pesantren yang dikenal sebagai pencetak kaum intelektual dan bermoral.

Oleh : Novi Yulianti

Satu Tanggapan to “Dari Santri, Oleh Santri, Untuk Santri”

  1. QORI Says:

    ck,sulit juga ya.pesantren,oh yes!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: